D. PEMERINTAHAN SULTAN (BAGIAN 2)

IMG_20180410_184234(1)_(1)3.jpg

Pada Bagian Pertama, telah di sampaikan 13 bagian sejarah mengenai pemerintahan dari para Sultan / Sultanah  dan Riwabatang ( Pelaksana Tugas Sultan ), berikut adalah kelanjutannya  :

14.Dewa Masmawa Sultan Harunurrasyid II ( 1777 – 1791 )

    Nama asli beliau Datu Budi, beliau merupakan Datu Seran. Setelah dua tahun Datu Busing Lalu Komak mengendalikan pemerintahan Kesultanan Sumbawa, maka permufakatan hukum adat memutuskan, menobatkan Datu Budi Datu Seran, menjadi Dewa Masmawa bergelar Sultan Harunurrasyid II.

Pada masa pemerintahan Dewa Masmawa Sultan Harunurrasyid IITerdapat beberapa peristiwa penting antara lain :

-      Mangkatnya Sultan Mahmud tanggal 8 Jumadil Akhir 1194 H ( 1780 )

-      Muhammad Ibnu Abdullah Al Jawi Assumbawi, seorang ulama besar Kesultanan Sumbawa selesai menulis sebuah Al Qur’an bermazhab Syafi’i pada tanggal 28 Dzulkaidah 1199 H ( 1784 ) yang sampai kini masih dapat dilihat di Istana Bala Kuning.

-      Penyerangan dan penghapusan Kerajaan Mento di Lantung disebabkan telah mengangkat Rajanya dari seseorang yang bukan keturunan raja serta bersalah karena tidak mau membayar upeti.

-      Terjadinya pemberontakan Kampung Bugis tahun 1788. Pemberontakan yang dilatarbelakangi kecemburuan Mele Badolah kepada Adipati Kesultanan Sumbawa, Lalu Kaidah Mele Habirah ditambah campur tangan Belanda dan susupan senjata oleh Raja Gowa, ipar dari Mele Badolah, sehingga puncak pemeberontakan terjadi pada 2 Sya’ban 1203 H. Namun pemberontakan yang diawali oleh Naiknya Mele Badolah ke atas Mesjid Kesultanan ini, dapat dipatahkan oleh Adipati Lalu Kaidah Dea Mele Habirah.

Peristiwa ini tertuang dalam sebuah syair lawas :

“ Mele Badolah pasang su’

Ran balukis mantang gawe

Datu Gowa ngaro ila’

Terjemahan bebas :

Mele Badolah terbakar cemburu

( lentikan api perang saudara kian membara )

Belanda pula yang mengipasnya

Akhirnya Raja Gowa terbeban malu 

Diantara tahun 1763 hingga 1790 keadaan masyarakat terganggu oleh Bajak Laut yang merajalela yang bernaung di Teluk Saleh. Hubungan keluar terutama melalui laut menjadi sangat terganggu karenanya. Sejak pemerintahan Dewa Mappaconga Mustafa maupun Datu Budi semasa menjadi Datu Seran, kondisi ini tidak dapat diatasi dengan baik. Guna melenyapkan Bajak Laut yang selalu mengacau di darat dan di laut, beliau memerintahkan Adipati Lalu Kaidah Dea Mele Habirah untuk memberantasnya. Adipati Mele Habirah bekerjasama dengan Inggris memblokir pantai menghantam penyelundup – penyelundup dari dan ke Maluku. Penyelundupan itu dilakukan oleh orang-orang Wajo. Dengan kekuatan bala bantuan Bajak Laut diserangnya.

Dalam kesempatan tersebut juga Empang yang merupakan daerah taklukan Dompu didudukinya pula, karena itu terjadilah peperangan antara Kesultanan Dompu dan Kesultanan Sumbawa.

Dalam berbagai pertempuran pasukan Dompu dapat dipukul mundur sehingga Adipati Mele Habirah dapat menduduki daerah – daerah Dompu seperti :Hu’u, Adu, Kempo dan Kwangko.

Dalam perjanjian damai antara Kesultanan Dompu dan Kesultanan Sumbawa ditetapkan :

-      Kesultanan Dompu mengakui kekuasaan Kesultanan Sumbawa atas Empang.

-      Daerah – daerah Hu’u, Adu, Kempo dan Kwangko dikembalikan kepada Kesultanan Dompu.

Baru saja perompak dapat ditumpas dari perairan Sumbawa, tahun 1788 timbul pemeberontakan yang dibantu orang-orang Bali, Sumbawa mendapat bantuan dari Kompeni dan Sultan Dompu. Pemberontakan dapat dipadamkan dan orang – orang bali diusir kembali ke Lombok.

Baru pada tahun 1790, kondisi keamanan pulih kembali.

Dewa Masmawa Sultan Harunurrasyid II mangkat pada tanggal 9 Juli 1791.

15.Dewa Masmawa Sultanah Shafiatuddin ( 1791 – 1795 )

Putri dari Sultan Harunurrasyid II, beliau merupakan Ruma Pa’duka ( permaisuri dari Sultan Bima ), Sultan Abdul Hamid Muhammadsyah Ruma Mantau Asi Saninu ( 1767 – 1811 ).

Kemangkatan Sultan Harunnurrasyid II pada tanggal 8 Dzulkaidah 1205 atau 9 Juli 1791, Shafiatuddin yang bernama asli Masikki dijemput dari Bima untuk menduduki tahta Kesultanan Sumbawa.

Pada masa pemerintahan Sultanah Shafiatuddin antara 1791 – 1792 telah datang ke Kesultanan Sumbawa, Karaeng Bainea Binamu Tenri Ico Dai Karaeng Marabombang, membawa kedua putranya : Saragialu Daeng Talebang dan I Mangalle Daeng Datta, beserta para pengikutnya. Mereka berlabuh di pelabuhan Garegat Bonto Kemase Labuhan Bontong Empang. Kedatangan ke Kesultanan Sumbawa setelah ditinggal mangkat oleh sang suami, Raja Binamu, I Bebasa Daeng Lalo Karaeng Lompo Ri Binamu. Dimana terjadi kesalahan dalam pengangkatan raja pengganti yang menyebabkan ketersinggunangannya dan meninggalkan kerajaan Binamu negerinya tercinta menuju ke Sumbawa.

Sebagai sesama wanita Sultananh Shafiatuddin lalu menghadiahkan tanah untuk pemukiman dan pertanian.

Adipati Kesultanan Sumbawa, Lalu Kaidah Mele Habirah, kemudian mempersunting Saragi Alu Daeng Talebang, Putri Binamu. Melahirkan Lalu Tunji Dea Tane dan Lala Intan Ratu Nong Sasir.

Permaisuri Dewa Masmawa Sultan Muhammad Kaharuddin II, Lala Amatollah adalah putri dari Lala Intan Ratu Nong Sasir buah perkawinannya dengan Karaeng Manippi Datu Bonto Mangape. Sedangkan keturunan dari Lalu Tunji Dea Tame melahirkan para pembesar dan pemberani Kesultanan Sumbawa antara lain : Lalu Makasau Dea Ranga Rango Berang, dan Adipati Abdul Jabar Lalu Tunruang.

Pelaksanaan pemerintahan Sultanah Shafiatuddin tidak terlalu berjalan lancar karena campurtangan yang terlampau jauh dari sang suami Sultan Bima.

Gelagat yang kurang menguntungkan ini kemudian membawa permufakatan Pangantong Lima Olas untuk menurunkan Sultanah Shafiatuddin.

Kepulangannya ke Bima membawa serta Pusaka Kesultanan Sumbawa yang kemudian didaftar pada dokumen Kesultanan dan dimuat sdalam BUK Kesultanan Sumbawa. Pusaka tersebut telah diminta berkali – kali namun Kesultanan Bima enggan mengembalikan.

Dalam catatan rahasia Bima tertanggal 15 November 1796, yang diterima Gubernur Belanda Willem Beth di Makassar, diterangkan bahwa seluruh pusaka Kesultanan Sumbawa telah diserahkan melalui utusan Kesultanan Sumbawa ; Datu Busing. Namun barang – barang tersebut tidak pernah sampai ke Istana Kesultanan Sumbawa.

Sejak itulah dikeluarkan Maklumat oleh hukum adat Kesultanan Sumbawa untuk tidak lagi menobatkan seorang perempuan menjadi Sultanah.

Sultanah Shafiatuddin mangkat di Bima pada tanggal 26 Oktober 1795 dan dimakamkan di Makam Sigi Na’e ( Mesjid Agung Bima). 

16.Dewa Masmawa Sultan Muhammad Kaharuddin II ( 1795 – 1816 )

Pernikahan antara Sultan Mahmud dengan Putri Sarah atau Putri Laiya melahirkan dua orang Putra Putri,

-      Lalu Muhammad

-      Lala Siti Fatimah.

Sepeninggal Sultan Mahmud, kedua putra putri ini menetap di Karang Banjar Kedatuan Taliwang, Kampung leluhurnya yang datang dari Kesultanan Banjar. Adapun sang ibu Karaeng Bonto Masugi Datu Bontopaja diboyong ke Makassar karena telah menikah lagi.

Lalu Muhammad inilah yang dijemput olah utusan Pangantong Lima Olas untuk dinobatkan sebagai Sultan Sumbawa dengan Gelar Dewa Masmawa Sultan Muhammad Kaharuddin II.

Sultan yang sangat terkenal keperkasaannya ini dijuluki Datu Bau Balo. Beliau berhasil mengembalikan wibawa Kesultanan yang mulai suram dimasa pemerintahan Sultanah Safiatuddin. Daerah – daerah yang sebelumnya enggan membayar upeti, kembali menunjukkan kesetiaannya. Hubungannya dengan Belanda pun cukup baik.

Peristiwa besar dalam sejarah bencana dunia terjadi pada masa beliau yakni meletusnya Gunung Tambora pada 15 April 1815, yang disebut masa “Ujan Awu“ oleh Tau Samawa.

Dampak letusan Tambora masih terasa hingga tahun 1816 karena kelaparan dan kekeringan, terjadilah wabah malaria, yang menyebabkan banyak penduduk meninggal dunia.

Pada tanggal 20 Syafar 1231 Hijriyah atau tanggal 18 pebruari 1816 Sultan Muhammad Kaharuddin II mangkat, beserta 2 orang putranya karena serangan ganas malaria. Yang tersisa 5 orang putra yang masih kecil – kecil yakni :

-      Lalu Muhammad Amrullah ( Sultan )

-      Lalu Mesir ( Sultan )

-      Datu Bonto Mangape

-      Datu Bonto Masugi

-      Datu Bonto Ramba 

17.Riwabatang Nene Ranga Mele Manyurang ( 1816 – 1825 )

Kemangkatan Sultan Muhammad Kaharuddin II beserta 3 orang putranya menyisakan duka yang mendalam di Istana Gunung Setia Kesultanan Sumbawa.

Dikarenakan 5 putranya yang masih hidup, masih kecil-kecil dan tidak begitu sehat, olah permufakatan hukum adat diangkatlah riwabatang Nene Ranga Mele Manyurang.

Selama lebih kurang 9 tahun kepemimpinan beliau sebagai Riwabatang Kesultanan Sumbawa, nene Ranga Mele Manyurang berusaha memperbaiki perekonomian yang porak poranda karena letusan Tambora. 

18.Riwabatang Mele Abdullah ( 1825 – 1836 )

Sepeninggal Nene Ranga Mele Manyurang pada Rabiul Awal 1241 Hijriyah ( tahun 1825 ) Kesultanan Sumbawa belum dapat melantik sultannya. Sehingga Panangtong Lima Olas kembali mengambil keputusan demi keberlangsungan pemerintahan di Kesultanan Sumbawa.

Hasil permufakatan, diangkatlah Mele Abdullah sebagai Riwabatang. Beliau mengendalikan pemerintahan selama lebih kurang 11 tahun.

Tidak banyak catatan tentang pemerintahannya selain mengembangkan pertanian dan perekonomian untuk kesejahteraan masyarakat adat Kesultanan Sumbawa.

Mele Abdullah mangkat pada Senin 17 Jumadil awal 1252 Hijriyah (tahun 1836 ).

19.Dewa Masmawa Sultan Lalu Mesir ( 1836 – 1837 )

Kembali terjadi kekosongan pada tahta Kesultanan Sumbawa setelah mangkatnya Riwabatang Mele Abdullah. Kesepakatan Majelis Pemerintahan Kesultanan Sumbawa akhirnya menobatkan Lalu Mesir sebagai Sultan Sumbawa.

Penobatan Lalu Mesir sebagai Sultan Sumbawa memberikan harapan besar akan marwah dan martabat kesultanan Sumbawa setelah kekosongan kekuasaan selama 20 tahun.

Para pembesar Kesultanan Sumbawa menghadap Gezaghebber Bima untuk menyurati Gubernur Belanda di Makassar, Reinier De Flietaz Bousquet, agar Sultan Lalu Mesir dapat diambil sumpah pengukuhannya guna proses kontrak politik dilakukan di Sumbawa Besar.

Namun belum sempat peneguhan penobatan dilakukan, Sultan Lalu Mesir mangkat diawal tahun 1837 beberapa bulan setelah dinobat. Sultan Lalu Mesir wafat dalam keadaan bujang. 

20.Dewa Masmawa Sultan Lalu Muhammad Amrullah ( 1837 – 1883 )

Guna menggantikan Sultan Lalu Mesir, diangkatlah sang kakak Lalu Muhammad Amrullah sebagai Sultan Sumbawa.

Sultan Amrullah berpermaisuri Lala Rante Patola putri Raja Bicara Bima dari perkawinan tersebut diperoleh 7 orang Putra – Putri, antara lain Datu Raja Muda Daeng Mas Kuncir atau juga dikenal dengan sebutan Mas Kuncir Datu Lolo Daeng Manassa. Serta adiknya yang bernama Daeng Mesir yang menjadi Datu Taliwang.

Pada masa pemerintahan Sultan Amrullah, Kesultanan Sumbawa memperoleh kemajuan yang sangat pesat dalam bidang perdagangan. Kesultanan Sumbawa membeli sebuah kapal dagang type Scoognard ( Sumbawa; sekonyar ) yang diberi nama “ Mastora “ untuk mengadakan hubungan perdagangan hingga ke Selat ( Sungapura ).

Selain dalam bidang perdagangan, dalam bidang pertanian Sultan Amrullah memasukkan bibit kopi Arabica yang ditanam di pegunungan Batulanteh dan Ropang.

Dalam bidang peternakan bibit sapi dimasukkan pula untuk dipelihara diWilayah Pulau Moyo dan pegunungan dalam Wilayah Kesultanan Sumbawa, meskipun akhirnya menjadi berkembang biak dan menjadi liar.

Pada masa pemerintahan beliau dapat diatasi permasalahan-permasalahan yang menyangkut kesetiaan daerah taklukan.

Pada bulan agustus 1872 kembali terjadi peristiwa hebat, kebakaran atas Istana Gunung Setia pusat pemerintahan/kekuasaan serta rumah tinggal Sultan dan keluarga. Kebakaran yang terjadi karena ledakan bibit mesiu. Dimana pada saat kejadian tersebut Sultan Amrullah sedang berada di Makasar sekembalui dari Batavia.

Datu Raja Muda Daeng Maskuncir yang diserahi tanggung jawab mengendalikan pemerintahan tidak dapat berbuat banyak atas peristiwa yang memakan koban harta benda bahkan jiwa manusia.

Sebagai ganti Istana Gunung Setia yang terbakar dibangunnya Istana yang baru yang diberi nama Istana Bala Sawo. 

21.Dewa Masmawa Sultan Muhammad Jalaluddinsyah III (1883-1931)

Datu Raja Muda Daeng Maskuncir atau Maskuncir Datu Lolo Daeng Manassa yang telah dikukuhkan untuk mengganti sang ayah Sultan Amrullah akhirnya batal.

Peritiwa kebakaran hebat Istana Gunung Setia menjadi penyebab terjadinya depresi mental dimana beliau lebih memilih kehidupan spiritual daripada menjadi seorang sultan. Sehingga hal ini tidak memungkinkan untuk tetap dipertahankan guna dimahkotai sebagai sultan sumbawa. Sehingga pada saat Sultan Amrullah mangkat pada tanggal 23 agustus 1883, hasil mufakat pangantong limaolas memutuskan untuk memilih putra tertua dari Datu Raja Muda Daeng Maskuncir yakni Mas Madina Daeng Raja Dewa untuk dinobatkan sebagai Sultan Sumbawa. Mas Madina Daeng Raja Dewa saat dinobatkan bergelar Dewa Masmawa Sultan Muhammad Jalaluddinsyah III.

Pada masa Pemerintahan Beliau, didirikan Istana Dalam Loka yang hingga kini masih dapat kita saksikan hingga dewasa ini dan menjadi kebanggaan masyarakat Sumbawa.

Penataan bidang pemerintahan mendapat perhatian khusus dari Sultan Muhammad Jalaluddinsyah III. Beberapa kali sistem pemerintahan mengalami perubahan. Pada Tahun 1920 terjadi perubahan besar dalam sistem perintahan Kesultanan Sumbawa dimana penghapusan district menjadi onderdistrct dan kemudian beralih nama menjadi Kademungan. Dengan perubahan struktur ini maka Kedatuan dalam Kamutar Telu , Seran , Taliwang dan Jereweh dihapus pula dan berubah status menjadi Kademungan.

Pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Jalaluddinsyah III inilah meletus beberapa peperangan melawan Belanda antara lain Perang Sapugara yang dipimpin oleh La Unru Sinrang Dea Mas Manurung ( 1906 – 1908 ) dan Perang Baham dipimpin oleh Baham ( 1906 dan 1921 )

22.Dewa Masmawa Sultan Muhammad Kaharuddin III ( 1931 –1958 )

Pada masa pemerintahan Sultan muhammad Jalaluddinsyah III telah dikukuhkan Datu Raja Muda Daeng Rilangi namun beliau mangkat sebelum dinobatkan sebagai Sultan. Menggantikan kedudukan Daeng Rilangi sebagai Putra Mahkota maka Kaharuddin Daeng Manurung yang tengah menempuh pendidikan di Yogyakarta dipanggil pulang dan dikukuhkan sebagai Datu Raja Muda.

Beliaulah yang kemudian dinobat sebagai Sultan Sumbawa bergelar Dewa Masmawa Sultan Muhammad Kaharuddin III, pada tahun 1931 sesaat setelah kemangkatan sang ayah Sultan Muhammad Jalaluddinsyah III.

Sebagai Sultan terpelajar Muhammad Kaharuddin III menata sistem pemerintahan menjadi lebih baik. Beliau dibantu oleh dua orang Menteri yakni Ranga dan Dipati.

Pergolakan politik sebelum dan sesudah Proklamasi Tahun 1945 membutuhkan peran besar seorang Sultan Muhammad Kaharuddin III, sehingga tak pelak lagi ketika Negara Indonesia Timur ( NIT ) terbentuk, beliau dipercayakan sebagai Ketua Parlemen. Demikian pula ketika Pemerintahan Dewan Raja – Raja beliau sebagai anggota, sedangkan pada Pemerintahan Swapraja dan Pemerintahan Daerah Swatantra Tingkat II Sumbawa, beliau dipercayakan menjadi kepala pemerintahan dan kepala daerah, sampai dengan terbentuknya Kabupaten Daerah Tingkat II Sumbawa.

Sultan Muhammad Kaharuddin III membangun 4 buah Istana di masa pemerintahannya. Antara lain :

-      Istana Bala Batu Ode

-      Istana Bala Puti

-   Istana Bala Gambir ( Istana Klungkung )

-      Istana Bala Kuning.

23.Dewa Masmawa Sultan Muhammad Kaharuddin IV.

Pernikahan Sultan Muhammad Kaharuddin III dengan Putri Sultan Shalahuddin Bima Siti Khadijah Daeng Ante Ruma Pa’duka dianugerahi 2 putra – putri yakni :

-   Nindo Siti Rahayu Daeng Risompa

-   Muhammad Abdurrahman Daeng Raja Dewa.

Pada hari kelahiran Muhammad Abdurrahman Daeng raja Dewa tanggal 5 april 1941 bermufakat para Demung dan Kepala Kampung dalam wilayah Kesultanan Sumbawa dengan satu keputusan bulat mengukuhkan Abdurrahman Daeng Raja Dewa sebagai Datu Raja Muda ( Putra Mahkota Kesultanan Sumbawa ).

Setelah berakhirnya Kesultanan Sumbawa tahun 1958, Daeng Ewan demikian Putra Mahkota dipanggil, menempuh pendidikan di malang dan Yogyakarta. Setamat dari pendidikan beliau berkarir sebagai Bankir.

Tahun 1970 Muhammad Abdurrahman Daeng Raja Dewa mempersunting Putri Karaeng Pangkajene Andi Bau Tenri Djadjah. Dari perkawinan tersebut beliau dikaruniai dua orang Putri masing masing :

-      Daeng Nadia Indriana Hanoum

-      Daeng Sarrojini Naidu.

Revitalisasi Lembaga Adat Kesultanan Sumbawa tahun 1994 menjadi Lembaga Adat Tana Samawa ( LATS ) dengan struktur baru disesuaikan dengan kebutuhan dan perkembangan zaman merupakan wujud luasnya wawasan sang Putra Mahkota untuk membawa Sumbawa maju dan berdaya saing pada kehidupan kekinian.

Keberadaan Lembaga Adat terus berkembang sebagai representase masyarakat adat Tana Samawa dibawah bimbingan dan pembinaan YM. Putra Mahkota.

Pada Mudzakarah Rea ( Musyawarah Agung ) yang berlangsung tanggal 8 – 10 Januari 2011, seluruh peserta Mudzakarah memutuskan dan mengukuhkan Abdurrahman Daeng Raja Dewa sebagai Sultan Sumbawa, beliau dinobatkan pada hari Selasa tanggal 5 April 2011 dalam usia 70 tahun.

Sebagai Sultan di Era Kemerdekaan, Sultan Sumbawa bukanlah alternatif pemerintahan tetapi sebagai pemimpin dalam proses pelestarian pusaka budaya Tau tana Samawa. Tugas – tugasnya adalah bersama – sama Lembaga Adat Tana Samawa ( LATS ) mendampingi Pemerintah dalam pembangunan sosiokultural.

Di pundak sang Sultan dan Lembaga Adat Tana Samawa tertumpang harapan besar masyarakat Tana Samawa ( Kabupaten Sumbawa dan Kabupaten Sumbawa Barat ) untuk dapat diwujudkan menjadi masyarakat yang religius, modern dan demokratis berlandaskan falsafah budaya “ Adat Barenti Ko Syara’, Syara’ Barenti Ko kitabullah, untuk Kerik Salamat Tau Ke Tana Samawa, Takit Ko Nene’, Kangila Boat Lenge”.

 

      Sumber :

Majelis Adat - Lembaga Adat Tana Samawa (LATS)

Bidang Kebudayaan - Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sumbawa


Kunjungan : 746
Kategori : Sejarah
Share :

Komentar :