GUNTING BULU

030920111165.jpg

Tradisi Gunting Bulu dalam masyarakat Samawa masih dilakukan hingga saat ini. Dalam upacara adat Gunting Bulu, rambut anak tidak digundul atau dicukur hingga botak melainkan digunting secara simbolik saja. Pada rambut anak yang akan digunting, telah diikat untaian-untaian buah bulu yang terbuat dari emas, perak atau kuningan. Dulunya, buah bulu dibuat dari emas, sekarang emas lebih banya digantikan dengan perak dan kuningan. Buah bulu berbentuk daun yang terbuat dari perak dan kuningan tersebut dirangkai dengan sehelai benang. Tiap rangkaian berisi tiga buah bulu. Pada ujungnya diberikan "malam" atau lilin yang akan digunakan untuk melengketkan buah bulu pada rambut si bayi. Umumnya, pada rambut bayi yang akan dipotong digantung lima rangkaian buah bulu bahkan ada juga yang lebih.

Tradisi ini menyerap kebiasaan yang dilakukan oleh Rasulullah dahulu secara simbolik saja. Di zaman itu, anak usia tujuh hari rambutnya dicukur hingga gundul. Lalu rambut tersebut ditimbang seluruhnya. Maka seberat timbangan rambut itulah berat emas dan perak yang disedekahkan kepada fakir miskin. Buah bulu yang terbuat dari emas atau perak, sekarang lebih banyak dipakai sebagai simbol emas yang akan disedekahkan. Maka secara simbolik pula, pada saat rambut si bayi digunting bersamaan dengan  buah bulu yang digantung di rambutnya.

Acara inti prosesi Gunting Bulu ini, akan dilaksanakan oleh pemangku adat dan tokoh-tokoh masyarakat yang diteladani. Gunting Bulu dilaksanakan dalam posisi berdiri. Semua undangan berdiri berjejer menyambut kedatangan si bayi, yang kelak diharapkan menjadi anak yang berguna bagi orang lain. Dalam gendongan sang ayah, bayi dibawa menuju Tetua atau pemangku adat yang akan menggunting rambutnya untuk pertama kali. Disertai doa-doa akan harapan baik bagi si bayi, rambutnya pun digunting bersamaan dengan buah bulu yang telah digantung pada rambutnya. Setelah pemangku adat selesai menggunting bulu si bayi, maka akan berlanjut dengan Gunting Bulu yang dilakukan oleh tokoh-tokoh masyarakat, orang-orang yang dituakan dalam masyarakat setempat hingga buah bulunya habis.

Rambut yang digunting dengan buah bulu tersebut dimasukkan ke dalam sebuah kelapa muda berukuran kecil dan berwarna kuning yang disebut dengan nyir gading berisi air dan bunga-bunga yang dikenal dengan bunga setaman. Ini merupakan simbolisasi bahwa tiap bagian dari manusia yang lahir itu demikian dihargai sehingga ditempatkan pada tempat yang baik (harum dengan bunga-bunga). Dari simbol bunga setaman ini, diharapkan anak tersebut kelak akan menjadi anak yang mandiri, memiliki pemikiran yang jernih dan mampu menyelesaikan persoalan-persoalan juga memiliki keluasan cara pandang dalam hidupnya sehingga meraih kemasyhuran atas dirinya.

Sesuai dengan doa dan harapan dari orang tua si bayi dan juga masyarakat sekitarnya kelak ia mendapat tempat yang baik dalam kehidupannya karena perangai baik pula dalam bergaul. Kelapa muda yang dipakai sebagai wadah untuk menampung rambut tersebut, dibentuk bergerigi disekelilingnya yang disebut tumpal pucuk rembung.

 

Sumber :

Naniek I. Taufan.(2011).Tradisi dalam Siklus Hidup Masyarakat Sasak, Samawa dan Mbojo. Penerbit: Museum Kebudayaan Samparaja Bima. Bima.

http://humasntb.blogspot.co.id/2015/06/budaya-samawa-gunting-bulu.html

 


Kunjungan : 272
Kategori : Adat Istiadat
Share :

Komentar :