KERAJINAN TENUN (KRE ALANG)

Kre_Alang.jpg

Desa Poto Kecamatan Moyo Hilir, sudah lama dikenal sebagai sentra wisata budaya dan tenun tradisional di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Salah satu kebudayaan lokal tersebut adalah kre alang, yaitu tenun kain songket khas Sumbawa yang proses pembuatannya cukup rumit, yang meliputi lima proses, yakni marane, mili, sesek kre alang, barabat, hingga sesek kre abat.

Marane (kadang disingkat rane) yang kadang bisa dilakukan oleh penenun sendiri, merupakan proses mengurai dan mengatur benang tane atau lungsi. Benang yang sudah di-rane dimasukkan ke dalam sisir yang dikenal dengan proses isi sisir. Setelah itu baru dilakukan mili, atau yang biasa disebut juga pili kemang, proses membuat motif hias tenun kain songket dengan menggunakan lidi. Dalam proses ini penenun memilih jumlah benang lungsi atau tane yang diangkat bagi masuknya lidi. Proses mili dilanjutkan dengan proses sesek kre alang. Dalam proses ini penenun tak hanya memasukkan benang pakan, namun juga nyongkat, menyongket benang emas/perak (kambaya) sesuai kedudukan lidi yang sudah terpasang saat proses mili. Proses menenun ini akan dilakukan hingga panjang tenun kain songket kre alang sudah mencapai kira-kira sekitar 360-380 cm, sesuai ukuran yang dikehendaki motif bidang kain. 

Proses-proses di atas diakhiri dengan proses-proses mewarnai benang serta barabat dan sesek kre abat, yaitu proses mengikat benang yang sudah disusun dan diatur berdasarkan jumlah tertentu sesuai motif yang diinginkan dan proses menenun untuk menghasilkan kre abat atau tenun ikatSentra-sentra kerajinan tenun kre alang tersebar di beberapa desa di Sumbawa, diantaranya di Kecamatan Moyo Hilir sentra kerajinan tenun kre alang terdapat di Desa Poto.


Kunjungan : 1
Kategori : Kesenian
Share :

Komentar :